Menjadi Bagian 1001 Buku

Posted by: ethie in 1001buku, Very personal taste 1 Comment »

23674_1247067418855_1294514594_30664930_6811107_nUntuk pertama kalinya sejak saya bergabung dengan komunitas 1001buku awal 2007 lalu, baru sekali ini saya ikut dalam kegiatannya yang riil. Selama ini saya hanya bisa mengikuti perkembangannya lewat milis dan website 1001buku. Sampai akhirnya, setelah saya hijrah ke Jakarta, Sabtu 20 Februari lalu saya bisa ikut salah satu program 1001buku yang dinamai SPD (Sort-Pack-Distribute).

Mungkin bagi beberapa anggota 1001buku yang sudah sering ikut dalam kegiatan SPD, akan menganggap kegiatan ini biasa saja. Tapi tidak bagi saya.

Kenapa?

Pertama, amazed! Bagaimana tidak?? Jaman sekarang, di saat kebanyakan orang selalu berorientasi pada profit, pada uang, ternyata masih ada sekelompok orang yang masih dengan sukarela mengerjakan banyak hal tanpa ada bayaran sepeserpun.

Yang mereka pikirkan adalah bagaimana buku ini bisa tersalurkan ke taman baca yang membutuhkan. Bagaimana buku-buku ini tersortir dengan baik sehingga layak untuk diberikan ke orang lain.

Yang mereka harapkan adalah buku yang diperoleh dari para donator ini bisa sampai ke tangan-tangan yang tepat. Dan yang juga mereka harapkan adalah semoga akan ada banyak orang yang dengan sukarela membantu menyalurkannya.

Lewat apa? Jelas lewat kegiatan SPD ini..

Kedua, marveled! Ini karena minimnya pengalaman saya dalam distribusi buku. Saya tidak menyangka kalau prosesnya lumayan panjang.  Apalagi dengan buku yang jumlahnya ribuan. Kegiatan SPD jelas memakan banyak tenaga dan waktu.

Jadi, prosesnya dimulai dengan membersihkan setiap buku yang bertumpuk-tumpuk saking banyaknya. Kemudian dipilah antara buku kategori anak dan dewasa. Dipilah lagi berdasarkan jenis bukunya, cerita, pelajaran, pengetahuan umum, kreativitas, majalah, dll.

Setelah selesai dipilah, diberi stempel 1001buku. Buku yang sudah distempel, lalu diberi label sesuai dengan catalog buku yang sudah ada di 1001buku. Baru kemudian dimasukan dalam dus-dus yang sudah disediakan. Dirapikan, dibungkus, dan didistribusikan.

Bayangkan kalau kegiatan SPD ini hanya dilakukan oleh tiga sampai lima orang? Saya tidak bisa membayangkannya.

Yang pasti, SPD terakhir banyak diikuti oleh teman-teman 1001buku. Sayangnya, saya nggak sampai selesai karena ada tugas kantor yang menanti.

So, siapapun yang membaca posting ini dan berminat dengan dunia buku, silakan bergabung di 1001buku.

Untuk 1001buku, terima kasih telah mengajari ku arti ikhlas. Komunitas ini memberi pelajaran baru, jangan mengharap imbalan, pun ucapan terima kasih atas kebaikan yang kita lakukan pada orang lain.  Cukup niatkan bahwa kita ingin membantu mereka yang memang membutuhkan. Titik.

Buat teman-teman 1001buku, Mbak Rini, Aisyah Putri, Mas Rizal, Mas Indra, Mbak Elvita, Cici, juga semuanya tetap semangat!

Bravo 1001buku!

NB: Foto by Cici Silent.

Odong-odong

Posted by: ethie in Kopaja, Rumah Maya No Comments »

Assalamu’alaikum rumah mayakuuuu….

Huhu.. Lama sekali saya nggak update apapun di sini. Kesibukan yang memenjara kreativitas, juga sarana yang nggak bisa lagi saya nikmati dengan gratis turut mempengaruhi minat saya untuk memasuki ‘rumah’ ini.

Iya, saya cuma sesekali menengok ‘rumah’ ini. Cuma menengok, tanpa berbenah. Ah, jangankan berbenah, sekedar mengisi saja rasanya berat sekali bagi saya.

Tuuh kaaan… Saya malah nulis alasan-alasan thok!

Oke, anggap saja nggak pernah baca ‘prelude’ di atas. Itu cuma buat mereka yang suka beralasan. Termasuk saya tentunya. Seribu alasan dikemukakan. Padahal intinya cuma satu: malas.

Dan sudah seharusnya penyakit ini nggak boleh menghinggap terlalu lama di jiwa saya!

*mengusir si malas*

.

.

.

Jadi ceritanya, sekarang saya sedang kangen. Kangen sama odong-odong (baca:kopaja). Satu bulan saya setia naik odong-odong. Sebenarnya bukan setia. Ini karena di tempat kerja saya, nggak ada angkutan lain lagi selain si odong-odong. Ada sih TransJakarta, tapi harus muter jauuuuuhh. Dan itu jelas nggak efektif buat saya.

Jadilah saya setiap hari naik odong-odong. Berebut tempat duduk dengan penumpang lain. Terkadang sampai berebut tempat berpijak di odong-odong karena saking penuhnya.

Fyuuhhh… betapa rakusnya supir odong-odong. Anehnya, masih ada saja yang mau naik. Berjubel di pintu masuk. Berkeringat, berhimpitan, dan ber-ber lain yang sudah pasti nggak enak!

Hei..! Itu belum termasuk kebiasaan jelek odong-odong pas malam hari. Ini yang paling saya nggak suka. Penumpang odong-odong seringkali dialihkan ke odong-odong yang lain. Dan parahnya, pengalihan penumpang ini nggak melihat tempat. Pernah satu kali saya mendapati penumpang odong-odong yang ‘mencuri’ jalur Busway dialihkan ke odong-odong yang saya tumpangi! Edan!

Tapi mau bagaimana lagi? Begitulah potret angkutan rakyat di negeri tercinta kita ini.

*sebenarnya kalau berbicara soal odong-odong, pasti berkaitan dengan TransJakata. Next time lah saya bahas*

.

.

Satu bulan berjibaku dengan odong-odong, akhirnya saya menyerah. Saya memilih kos di dekat kantor dan meninggalkan odong-odong.

Meski banyak sisi negatifnya, ternyata saya kangen juga dengan odong-odong. Kangen menjadi pengamat penumpangnya! Haha… Nggak keren banget,  PENGAMAT PENUMPANG!

Mau jadi pengamat politik, sudah banyak. Pengamat ekonomi, lebih banyak lagi.

*posting nggak penting setelah sekian lama*