Tourette Syndrome

Posted by: ethie in Psikologi, Tourette Syndrome 15 Comments »

Sudah dua hari saya selalu teringat dengan film Front of The Class. Yak, film yang saya tonton secara tidak sengaja sampai dua kali ketika larut malam ini, sudah bikin saya ‘jatuh cinta’. Sudah banyak yang nonton film ini pastinya yaaa..? Hee.. Nggak apalah ya, saya ulas di sini. (blushing)

Film ini bercerita tentang seorang anak bernama Brad Cohen, yang menderita Tourette Syndrome, yakni suatu GANGGUAN MENURUN yang ditandai dengan gerenyet urat syaraf otot sederhana, kompleks, dan vokal yang terjadi secara berulang-ulang dan tanpa disadari, sepanjang hari, selama satu tahun.

Istilah sindrom Tourette berasal dari seorang ahli saraf dan psikiater berkebangsaan Perancis bernama Georges Albert Édouard Brutus Gilles de la Tourette yang bekerja di sebuah rumah sakit di Paris ”l’Hopital de la Salpetriere”. Istilah Sindrom Tourette sendiri diberikan oleh Jean-Martin Charcot yang merupakan seorang profesor, ahli saraf terkenal pada akhir abad ke-9 di Perancis yang juga merupakan mentor dari Georges Gilles de la Tourette (Itard JMG, 1825). Diambil dari http://one.indoskripsi.com.

Tanda-tanda awal Tourette Syndrome biasanya berupa kebiasaan berkedip hingga berkali-kali, sentakan kepala ke kiri dan ke kanan, meregangkan leher, sampai mengeluarkan suara-suara keras. Gerakan berulang-ulang ini terjadi tanpa disadari (tic), atau lebih tepatnya tanpa diinginkan oleh si penderita kali yaa.. Karena mereka juga sebenarnya tidak ingin melakukannya, namun apa daya terjadi gangguan pada syaraf otaknya. *menurut sayaaaa*

tic-attackKembali ke film. Di film ini, yang dialami Brad Cohen sudah sampai pada taraf mengeluarkan suara, seperti woaa..woaaa! pffhhh..woaaa!!

Gara-gara suara inilah, teman-temannya sering mengejeknya sebagai anjing yang sedang menggonggong. Tidak hanya itu, Brad juga terpaksa dikeluarkan dari sekolahnya karena dinilai menggangu teman-temannya ketika berada di ruang kelas. Duh!

Namun, berkat kegigihan ibunya, Brad tetap bisa sekolah lagi. Tidak hanya sekolah, ibunda Brad juga mencari psikiater-psikiater. Sayangnya, psikiater menduga Brad berperilaku seperti itu (mengeluarkan suara aneh) sebagai akibat perceraian orang tuanya (broken home). Beruntung, si ibu nggak percaya dan tetap memberikan motivasi pada Brad. *Ah, betapa kasih ibu itu tiada duanya dan tiada tara*

Dengan keterbatasan yang dimilikinya, Brad ternyata memiliki cita-cita mulia. Yap, Brad ingin menjadi guru. Guru yang mau menerima kondisi muridnya, seperti apapun murid itu. Sayang, tidak gampang untuk mendapatkan sekolah yang mau menerima guru bersuara woaa woaaaa!

Dan sekali lagi, berkat kegigihannya pula, dia berhasil menjadi guru di sebuah sekolah dengan murid-murid yang luar biasa. Meski Brad sendiri tidak menyadari bahwa dia sedang mengajar di kelas dengan peserta didik yang istimewa. Hingga pada suatu hari, Brad dikukuhkan sebagai guru terbaik di kota tempat tinggalnya oleh tim penilai yang mengikutinya selama beberapa minggu.

O iya, dia juga punya kekasih, namanya Nancy (atau Nany ya?). Ah, saya lupa. Yang pasti, pacarnya ini mau menerima keadaan Brad, bagaimanapun kondisi Brad, termasuk dengan Tourette Syndrome yang diderita Brad. Di akhir cerita, Brad pun menikah dengan Nancy. Happy ending…. Yeiy!!!

Btw, banyak hikmah yang bisa diambil dari film ini. Kita tahu, di sekitar kita, banyak orang yang menderita Tourette Syndrome, bahkan lebih parah. Sudah seharusnya, kita merangkul mereka dan menjadi sahabat mereka, bukan dengan mengejek atau mengebiri mereka. Karena, mereka pun punya hak yang sama dengan kita.

Ada quote bagus dari film ini, dengan ‘Tourette Syndrome’, Brad dan para penderita Tourette Syndrome lainnya BELAJAR MELANJUTKAN HIDUP, TIDAK MEMBIARKAN DIA ‘Tourette Syndrome’ MENANG, dan TIDAK MEMBIARKAN Tourette Syndrome MENGAHALANGI MEREKA.

Gambar diambil dari sini.

Selamat berpuasa di hari ke tujuh, semoga puasanya lancar dan Ramadhan kali ini lebih baik dari tahun kemarin. Saya sedang terkena sindrom wiken niiihhh….

Mudik dan kehabisan tiket pesawat

Posted by: ethie in Pangkalan Bun, Riau Airlines, Transportasi udara 14 Comments »

Mudik, sering pula disebut pulang kampung (pulkam). Mudik sendiri berasal dari kata ‘udik’ yang artinya kampung atau dusun.

Kata ‘udik’ merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)  berarti desa, kampung, atau dusun. Namun,  kata ini (udik) sering kali dikonotasikan dalam sejumlah kalimat yang negatif. Misal, ‘orang udik’ yang artinya orang dusun. Akan tetapi, kalimat ‘orang udik’ lebih sering dikaitkan pada kebodohan atau ketertinggalan.

Padahal, apabila diartikan secara harfiah bisa berarti orang yang berasal dari kampung, seperti saya. Saya ini orang kampung (gadis desa tepatnya hahaha), tapi saya ndak bodoh yaaa… Heee.. Fokus ah!

Nah, kalau yang pulangnya ke kota besar,  seperti Surabaya, Semarang, Bandung atau Jogja apa masih disebut mudik dan pulkam? Atau sudah ada istilah baru,’pulkot’ mungkin?? Ada yang tahu?

Baiklah, saya tidak akan berpanjang-panjang membahas istilah mudik. Yang jelas,  saat ini saya sedang kecewa.  Sudah jauh-jauh hari saya memikirkan kapan saya bisa mengambil cuti,  lalu mudik naik apa, bujet berapa, dan lain-lain.. Tapi giliran saya pesan tiket pesawat, sudah habis semua. Hiks! Padahal kepulangan saya masih jauh.. huaaa… *Nangis darah*

11

Sebenarnya, saya ’sedikit’ maklum kalau sekarang tiket pesawat sudah habis. Karena, di kota kecil bernama Pangkalan Bun, yakni ibu kota Kotawaringin Barat hanya ada dua maskapai penerbangan,  Riau Airlines (RAL) dan Indonesia Air Transport  (IAT).

Sekedar gambaran, pesawat RAL hanya mampu menampung 108 orang, sedangkan pesawat milik IAT hanya 48 orang. RAL melayani rute Pangkalan Bun-Jakarta (PP) dan Pangkalan Bun-Semarang.  Nah, untuk IAT, melayani rute Pangkalan Bun-Semarang (PP) dan beberapa kota di regional Kalimantan. Dua maskapai inilah yang melayani transportasi udara di Pangkalan Bun.

Yang menjadi pertanyaan, apakah dua maskapai ini sudah cukup mengakomodasi kebutuhan sekitar 237.000 penduduk Kabupaten Kotawaringin Barat? Belum ditambah dengan kabupaten-kabupaten sekitar yang nggak punya bandara. Jelas kurang lah yaaa… *dijawab sendiri* Apalagi mendekati lebaran seperti sekarang ini.

Seharusnya, menurut hemat saya, Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat bisa mengatasi persoalan ini dengan meminta tambahan pesawat yang beroperasi atau menjalin kerja sama dengan maskapai penerbangan yang lain. Bukankah kemudahan aksesibilitas menjadi faktor penting untuk kemajuan suatu daerah? Kalau daerah mudah diakses, investor kan juga mudah datang.. Apalagi Kabupaten Kotawaringin Barat kan lumayan kaya. Kaya perkebunannya, hasil hutannya, tambangnya, pariwisatanya.. Hee.. Sok tau ah!

Oke, saya kurang tahu dan belum tahu, bagaimana perbandingan ideal antara jumlah penduduk dan moda transportasi udara di sebuah kabupaten, khususnya di Kalimantan Tengah.

Dengan jumlah penduduk sekitar 237.000, analisis kebutuhan transportasi udara berapa, khususnya untuk ke Pulau Jawa. Kenapa Pulau Jawa? Karena banyak perantau dari Jawa. *menjawab dengan polosnya*

Sampai di sini, adakah di antara blogger yang bisa sharing informasinya? Khususnya tentang perbandingan ideal jumlah penduduk dan moda transportasi udara.. Pliiis, bagi-bagi domz..!

*Tulisan ini bukan untuk mengabaikan transportasi laut dari Kalimantan ke Jawa, melainkan karena alasan: Dengan pesawat, jarak Kalimantan-Jawa jadi terasa lebih dekat. Yeiy!

Selamat berpuasa di hari pertama Ramadhan. Semoga kita semua bisa menjalaninya dengan sempurna..