Nature Deficit Disorder

Posted by: ethie in Psikologi, biophilia, dunia anak, pendidikan alam 7 Comments »

Dengan melihat lebah, seorang anak bisa belajar banyak hal sekaligus.
Tidak hanya belajar biologi, tetapi juga ilmu sosial, seperti betapa pentingnya kerja keras dan bekerja sama.
Mengajak anak menikmati alam, mengamatinya, mengenalkan makhluk lain ciptaan Tuhan akan menjadi ritual yang menyenangkan, menyehatkan, menambah pengetahuan, sekaligus mendekatkan mereka pada alam dan penciptaNYA.
Pengenalan anak terhadap alam tentunya harus dilakukan di luar ruangan atau di alam terbuka. Bisa dengan mengajak mereka ke taman bunga, kebun/sawah, taman kota, pantai, pasar, dan lainnya.
Hanya saja, terkadang ada orang tua yang over protective dan tidak akan membiarkan anaknya bermain di alam terbuka.
Orang tua kategori ini, biasanya lebih nyaman jika anak-anak bermain di dalam ruangan.
Padahal, anak yang selalu bermain di dalam ruangan bisa jadi kurang gerak karena aktivitasnya hanya tertumpu pada otak dan tangan.
Tidak hanya itu, mereka juga akan menjadi pribadi yang kurang peka terhadap alam sekitarnya.
Faktor lain yang menyebabkan orangtua lebih memilih mengajak anak bermain di dalam ruangan, bisa disebabkan karena minimnya ruang terbuka di sekitar rumah.
Biasanya kondisi ini dialami oleh orangtua yang tinggal di apartemen dengan halaman rumah sempit.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, anak-anak masa kini bisa mengalami nature deficit disorder.
Anak-anak tidak bisa menikmati suasana ketika dia berada di alam terbuka karena tidak mengenali lingkungan yang dihadapinya, merasa asing, dan tidak mencintai lingkungan.
Orangtua tentu tidak ingin anak-anaknya menderita nature deficit disorder hanya karena anak kurang mengenali alam sekitar.
Untuk itu, yang perlu dilakukan oleh orang tua adalah sering-seringlah mengajak anak-anak bermain dan berdekatan dengan alam.
Tanamkan kalimat,’Bicaralah pada alam, mereka akan menjawabmu’ dalam benak mereka.
Hal ini karena alam kaya akan pengetahuan yang bisa dipetik langsung oleh anak-anak, melalui penglihatan, pendengaran, indera peraba, dan penciuman.
Sebab, fenomena alam yang dilihat langsung oleh anak akan merangsang otaknya untuk terus berpikir, hingga akhirnya muncul pertanyaan-pertanyaan spontan atas apa yang baru saja dilihatnya.
Dari sini lah pendidikan alam dimulai. Di satu sisi, anak sudah tertarik untuk memperlajari apa yang dilihat dan dibayangkan. Di sisi lain, orang tua juga harus  siap dengan jawaban-jawaban yang lugas.
Orang tua masa kini dituntut untuk memiliki wawasan yang luas untuk menjawab setiap pertanyaan polos dari anak-anak yang kelihatannya sepele bagi orang dewasa.
Kalaupun tidak tahu jawabannya, orangtua bisa mengajak anak untuk bersama-sama mencari jawabannya.

***

Biophilia
Dalam psikologi evolusioner manusia dikenal istilah biophilia, yakni kebutuhan biologis manusia berinteraksi dengan alam dan respon positif manusia secara genetis dengan alam.
Artinya, mengajak anak bermain, belajar, dan berkenalan dengan alam sudah menjadi kebutuhan biologisnya.
Sayangnya, pendidikan di sekolah alam sering kali mengajarkan kecintaan terhadap lingkungan hanya berdasarkan sudut pandang orang dewasa, dan bukan sudut pandang anak-anak.
Pendekatan dari sudut pandang orang dewasa ini misalnya, mengajarkan pada mereka tentang kerusakan hutan, kerusakan terumbu karang, global warming, atau pembalakan liar. Padahal pendekatan ini hanya akan membuat mereka bingung dan takut.
Seharusnya, pendekatan pada anak dilakukan dengan memberikan penjelasan dan contoh-contoh yang selugas mungkin sesuai dengan kemampuan kognitifnya. Sehingga yang muncul pada diri anak bukan ketakutan, melainkan kecintaannya pada alam.

***

** Gambar dari sini

Awali Hari dengan Senyum

Posted by: ethie in Endorphine, Pribadi, emo kid, piercing 7 Comments »

Awali harimu dengan senyuman. Ajakan ini memang mudah diucapkan, tapi sulit dilaksanakan. Setidaknya bagi saya pribadi. Mood yang sering acak-adut, nggak bisa dikontrol dan diajak kompromi ini lumayan mengganggu sebenarnya.

Padahal, sejauh yang pernah saya alami, kalau saya memulai hari dengan mood jelek bin acak-adut, maka sepanjang hari mood saya juga jelek. Bahkan hingga menjelang tidur lagi, mood jelek enggan sekali untuk beringsut.  Badmood begitu betah berdekatan dengan saya, memeluk saya, sampai akhirnya saya merasa terhimpit. Ugh!

Sebaliknya, kalau saya memulai hari dengan senyuman, sepanjang hari itu, hidup saya [seperti] dihiasi senyum kebahagian, hidup juga terasa ringan, walaupun tangan tak bawa uang. Heee…

Kenapa?

Ternyata ini semua karena ulah si endorphine!

Iya, endorphine.

Katanya, pada saat tersenyum, kita melepaskan kelenjar endorphine. Endorphine ini singkatan dari Endogoneus Morphine atau morphine yang dihasilkan oleh tubuh kita.

Endorphine adalah senyawa penting dalam kehidupan kita yang menjadikan seseorang merasa lebih nyaman dengan dirinya sendiri. Intinya, endorphin ini zat yang bisa membuat diri kita merasa senang dan membuat gerak kita lebih banyak.

Hmmm…Apakah ini berarti orang-orang yang dirawat di rumah sakit jiwa memiliki endorphine berlebihan? Mereka kan selalu senyam-senyum sendiri…

Dan sependek pengetahuan saya, ternyata (lagi), ada lho orang yang ingin selalu merasa nyaman dengan melakukan segala cara, bahkan sampai melukai dirinya sendiri. Cara ini namanya cutting, yakni upaya melukai diri sendiri dengan cara mengiris tangan sendiri menggunakan silet atau cutter dan sejenisnya.

Hmmm… Bagaimana dengan tato dan body piercing? Berarti mereka masuk dalam kategori cutting dunk?

Yaiyalaaaahhh… *hati kecil saya yang jawab*

Melalui cutting, [katanya],  mereka akan mendapatkan endorphin yang bisa membuat perasaan lebih nyaman. Nah, orang-orang yang suka melakukan cutting ini biasanya cowok atau cewek emo kid.  *Jangan ditiru yak!*

Halaaaah.. Kok bahasan saya sampai emo kid segala sih??? *pentung*

CMIIW yaaaakkkk!!! Kalo ada yang salah.

.

.

.

So, buat teman-teman, juga saya sendiri, yuk awali hari dengan senyuman termanis kita…! :)