Ngeblog Itu Nggak Ada Ruginya!

Posted by: ethie in Award, sahabat 17 Comments »

Teknologi informasi sudah berkembang begitu pesat, sampai hampir menggeser semua media tradisional. Lihat saja aktivitas berkirim surat (korespondensi) yang semakin terkikis habis. Tidak percaya? Coba sekali-kali datang ke kantor pos dan tanyakan berapa banyak masyarakat yang masih berkirim surat? Atau berapa kartu ucapan yang masih dikirim via pos?

Di Pangkalan Bun misalnya, kepala kantor pos setempat mengaku lebih banyak mengirimkan surat resmi dari kantor dinas. Demikian juga dengan kartu ucapan hari-hari besar. Jumlah masyarakat yang menggunakan jasa pos terutama pengiriman surat, sudah berkurang hingga 90%. Selebihnya, hanya kantor-kantor dinas yang masih sering berkirim surat resmi. Jasa pos yang masih berjalan normal hanya pengiriman barang.

Saya tidak menyalahkan perkembangan teknologi informasi. Saya justru senang karena saya masuk dalam penikmatnya. Tapi, saya juga kehilangan. Saya merasa kehilangan kebiasaan membaca kertas surat dari sahabat saya, saya kangen dengan bentuk tulisan tangannya, dan saya juga kangen dengan wangi kertas warna-warni yang sering mereka gunakan.*Sentimentil sekali*

Sekarang, tulisan tangan sahabat saya sudah berganti dengan pesan singkat di HP, email, wall di FB, atau tulisan panjang di blog. Meski sama penulisnya, tapi saya merasa lebih menikmati ketika membaca tulisan tangan. Membacanya, menciumi aroma wangi kertas surat sambil berbaring dengan mata menerawang.. Penuh sensasi! Hahayyy! Jadul sekali saya ini!

*Cukup ah lebainya*

Btw, kemarin, saya dapat award persahabatan dari Bunda Desri. Kami memang belum pernah bertemu langsung, belum pernah berkirim email atau chat di Ym. Apalagi berkirim surat aneka warna dan aroma. Tapi, kami saling mengunjungi di blog, saling suport, saling mengisi, saling berbagi… Semoga suatu saat bisa ketemuan ya bunda.. 9tj3eu

Persahabatan itu ibarat tangan dengan mata. Ketika tangan terluka, mata menangis. Ketika mata menangis, tangan menghapusnya. Bahkan ada yang bilang, kekayaan tidak akan bisa membeli seorang sahabat atau membayar kerugian akibat kehilangan seorang sahabat. Duuh, jangan sampai kita kehilangan sahabat..

Saya bersyukur karena banyak bertemu sahabat baik dari blog. Ternyata, ketika bertemu langsung, mereka orang-orang yang sangat menyenangkan. Nice person laah! Nggak rugi saya nge-blog. Dan memang nggak ada ruginya nge-blog. Mengasah keterampilan menulis dan menambah teman. Syukur-syukur kalau bisa dapat penghasilan dari nge-blog! Kenapa tidak?

Tidak ada yang salah dengan nge-blog atau berinternet. Sama halnya di kehidupan nyata, di dunia maya juga kita akan bertemu dengan orang-orang yang iseng, baik, lucu, tukang ngibul, bahkan orang jahat sekalipun. Di manapun kita berada, kita pasti akan tetap bertemu manusia dengan segala variasinya. Masih banyak kok blogger yang menulis dengan jujur, tapi tidak sedikit juga blogger yang suka ngibul. Pandai-pandai membawa diri saja dan tentunya, harus tetap selektif!

Rasanya, baru kemarin…

Posted by: ethie in Idul Adha, Pribadi, Very personal taste 9 Comments »

Tidak terasa, besok sudah Idul Adha. Dan untuk ketiga kalinya saya harus merayakan Idul Adha di kota kecil ini. Artinya, sudah tiga tahun saya berada di sini. Sudah mengalahkan Bang Thoyib yang hanya dua tahun meninggalkan anak dan istri.
Padahal, rasanya baru kemarin saya kebingungan memilih antara hidup di kota sendiri dan kota kecil di luar Pulau Jawa. Antara jadi guru dan kuli tinta. Antara keluarga dan pengalaman baru. Juga antara kau dan aku.
Rasanya, baru kemarin saya memutuskan sebuah pilihan berat. Tiba-tiba sekarang saya harus berhadapan dengan pilihan-pilihan yang tidak kalah beratnya.
Rasanya, baru kemarin saya dalam keterpurukan, tapi hari ini saya begitu bersemangat menjalani kehidupan. Saya seperti mendapat suntikan yang memacu adrenalin, sampai lupa makan dari kemarin.
Dan rasanya, baru kemarin musim panas, sekarang tiba-tiba hujan turun begitu deras.
Ya..rasa-rasanya..Dan beginilah rasanya..

Sebenarnya, ketika saya bercerita dengan menggunakan kalimat, ‘Rasanya, baru kemarin…’, saya sendiri tidak yakin. Karena kalimat itu seolah menunjukkan bahwa selama saya di sini, saya menjalaninya dengan begitu mudah tanpa ada halangan, tanpa ada cobaan. Seolah saya menjalani waktu tiga tahun dengan begitu ringan tanpa beban.
Padahal kenyataannya, tidak segampang itu.  Tidak jarang saya menangis karena merasa sendirian. Tidak ada satupun famili yang bisa saya datangi. Apalagi ketika libur seperti hari ini, saya hanya bisa menikmatinya sendiri. Kantor dan kantor lagi, kosan dan kosan lagi.
Ah ya, memang ada banyak teman di sini, tapi mereka juga punya keluarga sendiri. Saya harus tahu diri karena mereka juga punya kepentingan, punya keperluan dengan anggota keluarga yang lain.

Harusnya saya sudah kebal tapi saya juga tidak bisa menyembunyikan perasaan yang mengganjal. Saya memang kebal ketika harus memendam rindu pada keluarga dan ketika harus menepis lara yang mendera. Karena di sini, saya harus pandai membalut luka sendiri, saya harus pintar menjaga diri, saya harus bisa melakukan apapun sendiri, termasuk ketika harus mengerik badan sendiri…
Tapi..saya juga tidak bisa selamanya seperti ini!

Yah, semoga Desember yang dinanti bisa membawa saya ke luar dari kota ini, bisa membawa perubahan berarti dan lebih baik dari hari ini. Semoga!

Selamat Idul Adha 1430 H. Semoga kita bisa meneladani keikhlasan dan kebesaran hati Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Akhirnya, selamat menikmati hidangan keluarga yang pasti lezat rasanya.