Lebih dari satu minggu menginjakan kaki di Jakarta dan saya mulai permisif dengan hiruk pikuk ibu kota. Saya berusaha untuk tidak menyalahkan kondisi seperti ini dengan berpikir bahwa ibu kota memang tempat bagi mereka yang ingin mewujudkan mimpi menjadi nyata.
Ya, apapun lah bentuk mimpinya. Yang pasti, Jakarta memang menjanjikan segalanya kecuali, jalanan yang lengang, hutan kota, keramahtamahan penduduk, serta udara dan lingkungan yang bersih. Lima poin itu yang menurut saya sulit (kalau tidak bisa disebut tidak bisa) diperoleh di Jakarta. Atau sahabat blogger bisa menambahkan poin lainnya? Sejauh ini, saya baru menemukan lima poin itu.
Selebihnya, Jakarta memang menyediakan segalanya, mulai dari yang biasa sampai luar biasa. Mulai dari yang berdasi sampai yang hidup di pinggir-pinggir rel kereta api dan tidak sanggup makan nasi. Mulai dari gedung pencakar langit sampai gubuk-gubuk sempit beratap langit. Mulai dari kawasan elit hingga kawasan kumuh yang banyak dijangkiti penyakit.
Jakarta itu ibarat toko serba ada (toserba). Semua tersedia di sini. Komplit-plit, kecuali lima poin tadi! Huuuufffff…. *menyeka keringat*
Tapi Jakarta dengan segala kekerasan hidupnya, kesibukan manusianya, hiruk pikuknya, keunikannya, peluang usahanya, dan semuanya….tetap menarik hati kaum urban untuk menghampirinya, termasuk saya.
Ya, saya. Perempuan kecil yang sok idealis ini sebelumnya tidak pernah berpikir akan menginjakan kaki dan mengadu nasib di Jakarta. Karena kota ini terlalu angkuh untuk dijadikan my next destination. Tapi siapa menyangka, ternyata saya juga menjadi bagian dari mereka yang mengadu nasib di ibu kota! Saya telah menggadaikan keinginan untuk hidup di tempat yang semikota. *ada istilah ini nggak sih*
Semoga pilihan merantau di ibu kota tidak membuat saya kapok. Semoga…
.
.
.
……bersambung…..


